Review bab VI perencanaan kegiatan humas (PR)

 Nama : Gustinawati

Nim : C1D119151

Kelas : A (ilmu komunikasi)


BAB VI 

PERENCANAAN KEGIATAN HUMAS (PR)


A. Perencanaan Program-program Public Relations Dengan sekian banyak, ada empat yang paling menonjol bagi dilakukannya perencanaan humas. Keempat alasan tersebut adalah sebagai berikut: 

1) Untuk menetapkan target-target operasi humas yang nantinya akan menjadi tolok ukur atas segenap hasil yang diperoleh, 

2) Untuk memperhitungkan jumlah jam kerja dan berbagai biaya yang diperlukan, 

3) Untuk menyusun skala prioritas guna menentukan (i) jumlah program dan (ii) waktu yang diperlukan, 

4) Untuk menentukan kesiapan atau kelayakan

pelaksanaan berbagai upaya dalam rangka mencapai tujuan-tujuan tertentu sesuai dengan jumlah dan kualitas (i) personil yang ada, (ii) daya dukung dari berbagai peralatan fisik, Serta (iii) anggaran dana yang tersedia. 

B. Model Perencanaan Humas 

Model perencanaan humas enam langkah yang sudah diterima secara luas oleh para praktisi humas profesional itu adalah sebagai berikut: 

1. Pengenalan Situasi

a. Perencanaan Logis 

Tentu saja keberhasilan akhir tidaklah di tentukan sematamata oleh baik tidaknya perencanaan, melainkan juga pada keahlian dan efisiensi proses pelaksanaannya. Kunci pertama dalam menyusun suatu rencana secara logis adalah pemahaman terhadap situasi yang ada. Sebelum kita merumuskan suatu program humas, kita perlu mengetahui titik awalnya. Misalnya, kita harus mengetahui secara pasti seperti apa citra organisasi di mata khalayak. 

Kegiatan-kegiatan humas yang sebenarnya tidaklah terwujud berupa perekayasaan atau pemolesan publisitas guna memunculkan suatu citra yang lebih indah dari aslinya atau pengumpulan kliping koran yang semata-mata memuat pujian atas organisasi kita. Kebiasaan seperti ini hanya merupakan tindakan menipu diri sendiri. Ada pun kegiatan-kegiatan humas yang sebenarnya snantiasa menjungjung tinggi kebenaran dan kejujuran. Kegiatan humas yang sesungguhnya juga menuntut keterbukaan sedangkan keterbukaan membutuhkan komunikasi yang baik. Untuk itu perlu diadakan suatu studi mengenal Situasi-situasi internal maupun eksternal yang dihadap' Organisasi. 

b. Proses Tranfer Humas

Tujuan yang hendak dicapai adalah mengubah 4 sikap negatif menjadi 4 sikap positif. Melalui perubahan tersebut diharapkan pada akhirnya akan dicapai suatu pengetahuan yangakan menumbuhkan pemahaman timbal balik antara organisasi yang bersangkutan dengan segenap khalayaknya. Seperti kita ketahui tujuan paling mendasar dari kegiatan humas adalah penciptaan pemahaman. Setiap pratiksi humas berkewajiban menjadikan khalayak organisasinya memahami produk atau kehadiran organisasi secara keseluruhan. Mereka sama sekali tidak dibebani tugas untuk membuat khalayak tadi menyukai atau mencintai organisasinya. Khalayak bisa memahami kondisi organisasi, meskipun mereka tidak menyukai, tujuan humas tercapai. Jadi di sini yang ditekankan adalah pengertian atau pemahaman. Empat sikap unsur sikap secara lebih mendalam: 

a) Permusuhan (hostility). Di sini kita perlu mengetahui ada tidaknya sikap permusuhan yang tertuju kepada Organisasi atau perusahaan kita, sejauh mana kadarnyaM seperti apa bentuknya, apa sajakah faktor penyebabnya, serta dapatkan dan bagaimana caranya meredakan sikap permusuhan tersebut. 

b) Prasangka ( Prejudice), Prasangka itu bisa muncul dari sebab-sebab yang bersifat pribadi, edukasional, faktor keagamaan, komflik sosial atau benturan kelas, pengaruh lingkungan atau semata-mata hanya karena salah paham Jadi Teori Disonansi Kognitif yang dirumuskan oleh Leon Festinger agaknya bisa diterapkan disini. Orang selalu memiliki sikap yang konservatif terhadap berbagai ide atau hal-hal yang baru dan cenderung menolak adanya perubahaa. Tapi, begitu mereka mulai terbiasa atau begitu mereka meligat adanya segi-segi yang positif atau menarik dari gagasan atau hal baru tersebut, maka mereka akan segera menerima atau mendukungnya, sekaligus menolak gagasan-gagasan lama yang semula mereka pertahankan dengan gigih. Jadi prasangka itu beralih dari gagasan atau hal yang baru ke gagasan atau hal yang lama. 

c) Apati (Apathy), Sikap apatis ini merupakan musuh utama humas karena merupakan ganjalan pokok bagi terciptanya pemahaman. Sikap enggan, masa bodoh dan tidak mau tahu ini pada dasarnya adalah produk dari suatu ego yang berlebihan, kemalasan keterbatasan imajinasi atau sematamata diakibatkan oleh tidak memadai atau tidak menariknya cara penyajian atau sesuatu subjek baru sehingga tidak mampu memancing minat dan kepercayaan khalayak yang dituju. Kita hanya terpaku pada kepentingan kita sendiri dan cenderung merasa enggan untuk memperhatikan hal-hal lain. 

d) Sikap acuh tak acuh (Igonorance), Sikap ini merupakan penyakit umum yang sampai batas tertentu masih wajar. Di era serba sibuk seperti sekarang ini, seseorang tidak mungkin mengetahui dan memahami segala sesuatu dengan baik. 

C. Kompromi Yang di Perlukan 

D. Penyelidikan Situasi 

E. Pengumpulan Pendapat 

F. Pemecahan Masalah 

G. Metode Pengenalan Situasi 

 

2. Defenisi Tujuan

Tujuan kegiatan humas sebuah perusahaan di antaranya: 

a) Untuk mengubah' citra umum di mata khalayak sehubungan dengan adanya kegiatan-kegiatan baruyang dilakukan oleh perusahaan. Sebagai contoh, suatu perusahaan yang semula hanya menangani transportasi truk tapi kemudian mulai menjual mesin pemanas ruangan. Guna menyesuaikan diri atas adanya kegiatan yang baru tersebut, maka perusahaan hrus berusaha mengubah citranya supaya kegiatan danroduk barunya itu mendapatkan sambutan positif dari khalayaknya. 

b) Untuk meningkatkan bobot kualitas para calon pegawai. 

c) Untuk menyebarluaskan suatu cerita sukses yang telah dicapai oleh perusahaan kepada masyarakat dalam rangka mendapatkan pengakuan. 

d) Untuk memperkenalkan perusahaan kepada masyarakat luas, serta membuka pasar-pasar baru. 

e) Untuk mempersiapkan dan mengkondisikan masyarakat bursa saham atas rencana perusahaan untuk menerbitkan saham baru atau saham tambahan. 

f) Untuk memperbaiki hubungan antara perusahaan itu dengan khalayaknya,sehubungan dengan telah terjadinya suatu peristiwa yang mengakibatkan kecaman, kesangsian, atau salah paham di kalangan khalayak terhadap niat baik perusahaan. 

g) Untuk mendidik para pengguna atau konsumen agar mereka lebih efektif dan mengerti dalam memanfaatkan produk-produk perusahaan. 

h) Untuk meyakinkan khalayak bahwasanya perusahaan mampu bertahan atau bangkit kembali setelah terjadi suatu krisis. 

i) Untuk meningkatkan kemampuan dan ketahanan perusahaan dalam menghadapi resiko pengambilalihan (take-over) oleh pihak-pihak lain. 

j) Untuk menciptakan identitas perusahaan yang baru. 

k) Untuk menyebarluaskan informasi mengenai aktifitas dan partisipasi para pimpina perusahaan organisasi dalam kehidupan sosial sehari-hari. 

l) Untuk mendukung keterlibatan suatu perusahaan sebagai sponsor dari suatu acara. 

m) Untuk memastiakan bahwasanya para politisi benar-benar memahami kegiatan-kegiatan atau produk perusahaan yang positif, agar perusahaan yang bersangkutan terhindar dari peraturan, undang-undang, dan kebijakan pemerintah yang merugikan. 

n) Untuk menyebarluaskan kegiatan-kegiatan riset yang telah dilakukan perusahaan, agar masyarakat luas mengetahui betapa perusahaan itu mengutamakan kualiatas dalam berbagai hal. 

3. Penetapan Khalayak

Organisasi harus menetapkan atau menentukan sebagian diantaranya paling dibutuhkan atau paling seduai.

Perbedaan penting khalayak dunia humas dengan periklanan. Khalayak periklanan relatif terbatas, misalnya masyarakat tertentu yang berpotensi membeli produk. Sedangkan khalayak humas relative lebih luas dan bervariasi yakni anak-anak sekolah hingga para pejabat tinggi dan anggota parlemen.

4. Pemilihan Media dan Teknik Humas

5 hal menarik ketika membandingkan media humas dan media iklan yaitu:

1). Kampanye periklanan dan kampanye humas sama-sama bisa menggunakan berbagai macam media.

2). Aktivis humas berhubungan dengan para editor,jurnalis,serta para produser TV dan radio, sedangkan para praktisi periklanan lebih banyak berhubungan dengan para manajer iklan dari berbagai perusahaan, petugas iklan di media massa.

3). Iklan sifatnya jauh lebih komersial dibanding dengan humas.

4). Kampanye periklanan biasanya dilakukan terbatas pada media-media yang bisa diharapkan akan membuahkan hasil maksimal. Kampanye humas bersedia menggunakan media apa saja.

5). Tidak seperti dunia periklanan, dunia kehumasan dapat menggunakan berbagai media khusus seperti jurnal-jurnal internal, bulletin atau sekedar majalah dinding.

VARIASI MEDIA HUMAS 

Variasi Media Humas Kita dapat segera mempelajari daftar pilihan media humas beserta berbagai tujuandan jenis khalayak yang hendak dituju sebagai landasan pemilihan media. media-media humas yang pokok: 

a) Media pers (press): terdiri dari berbagai macam koran yang beredar di masyarakat secara umum, baik yang berskala regional maupun nasional atau bahkan internasional, koran-koran gratis, majalah-majalah, yang diterbitkan secara umum maupun hanya dalam jumlah terbatas untuk kalangan tertentu, buku-buku penunjuk khusus, bukubuku tahunan dan laporan-laporan tahunan dari berbagai lembaga yang sengaja dipublikasikan untuk umum. 

b) Audio-visual: media ini terdiri dari slide dan kaset video, atau bisa juga film-film documenter. 

c) Radio : Kategori ini meliputi semua jenis radio, mulai dari yang berskala local, nasional hingga internasional baik yang dipancarkan secara luas maupun yang dikemas secara khusus seperti yang dilakukan oleh radio EM Communication (dulu namnya UMS), humas siaran luar negeri BBC, dan COI (Central Office of Informations), dan sebagainya. 

d) Televisi : televise yang sering digolongkan sebagai media humas tidak hanya televisinasional atau regional tapi juga televise international (Via COLI), termasuk pula sistem - Sistem seperti Prestel, Oracle, dan Ceefax, yakni suaty perangkat yang memungkinkan pemakainya memperoleh informasi-informasi yang dibutuhkannya melalui siaran televise terbatas. 

e) Pameran (exhibition): eksibisi yang khusus diselenggarakan untuk memperkenalkan suatu produk baru, dan sebagainya. 

f) Bahan-bahan cetakan (printed material): berbagai macam bahan cetakan yang bersifat mendidik, informative, dan menghibur yang disebarkan dalam berbagai bentuk guna mencapai tujuan humas tertentu. 

g) Penerbitan buku khusus (sponsored books): seluk-beluk organisasi, petunjuk lengkap mengenai cara penggunaan produk-produknya atau bisa juga mengenai keterangan tentang berbagai aspek yang berkenaan dengan produk atau organisasi itu sendiri. 

h) Surat langsung (direct mail): tidak hanya ditujukan kepada tokoh atau pribadi-pribadi tertentu saja, tapi juga kepada berbagai macam lembaga yang sekiranya relevan, atau untuk dipajang di tempat-tempat umum. 

i) Pesan-pesan lisan (spoken word): bisa dilangsungkan dalam berbagai kesempatan seperti dalam acara sarapan pagi bersama, di sela-sela pertemuan dinas, dalam pembicaraan telepon, atau dalam suatu seminar. 

j) Pemberian sponsor (sponsorship) 

k) Jurnal Organisasi (house Journal): ada dua macam jurnal yakni (1) jurnal yang bersifat internal dan (2) jurnal eksternal. 

l) Ciri khas (house style) dan identitas perusahaan (corporate identity) 

m)Bentuk-bentuk media humas lainnya: seiring dengan ebolusi waktu dan kemajuan teknologi, bisa dipastikan 

bahwa bentuk media tersebut akan semakin bervariasi di masa-masa mendatang. 

Media dan Anggaran

Para perencanaan media humas juga harus memperhitungkan media mana yang harus digunakan untuk menjangkau khalayak yang telah dipilih, tentunya sesuai dengan keterbatasaan anggaran yang ada. Anggaran tersebut terkadang dijadikan faktor kelima dalam model perencanaan humas, teteapi juga tidak jarang hal itu dipisahkan dan ditentukan lebih dahulu sebelum keseluruhan proses perencanaan dimulai. 

5. Anggaran 

Kita cukup memahami bahwa humas merupakan kegiatan yang padat karya, sehingga pos pengeluaran terbesar dihabiskan untuk membayar pemakaian jam kerja alias gaji personil. Pos pengeluaran lain yang cukup besar akan tercipta bila pelaksanaan kegiatan humas itu juga melibatkan pemakaian alat-alat canggih seperti kamera video,komputer, hingga mesin cetak modern. Adakalanya, pos-pos pengeluaran itu dialikan ke anggaran lainnya, misalnya saja ke anggaran dokumentasi. 

6. Pengukuran Hasil

Pengukuran Keberhasilan atau Kegagalan

a). Teknik digunakan untuk mengenali situasi sering digunakan untuk mengevaluasi berbagai hasil yang telah dicapai dari seluruh kegiatan humas yang telah dilaksanakan. Metode pengumpulan pendapat atau uji sikap (attitude test) merupakan dua metode yang lazim digunakan 

b). Metode-metode hasil evaluasi biasanya diterapkan pada tahap perencanaan. Bila perlu, evaluasi bisa dilakukan selama berlangusngnya proses pelaksanaan dari program humas yang bersangkutan 

c). Setiap program humas harus memiliki tujuan yang pasti. Untuk itu, perlu ditetapkan target-target terlebih dahulu. Target-target ini akan digunakan sebagai perbandingan atau hasil riil yang telah dicapai. Unsur lain yang bisa digunakan sebagai tolak ukur adalah liputan media massa.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tugas Final Ilmu Humas

layanan masyarakat mengenai vaksinasi